—semua yang kumiliki nampaknya memiliki pasangan. sampai -
sampai hatiku bersembunyi di dalam. tidak terlihat oleh kedua mataku.
hatiku malu karena tidak mempunyai pasangan. apakah hatimu juga seperti
itu.
—“mungkin kita hanya sepasang sepatu. tiap hari kita
bersebelahan. tetapi kita selalu berdiam diri ketika berpapasan. bisakah
kau mengucapkan satu kata yang nyata dengan goresan ujung sepatumu di
pasir?”
—sungguh aku terpaksa mendengarkan lagu kesukaanmu. telingaku haus akanmu.
“aku melihat fotomu. sungguh membuang waktu. mengapa kau hanya
tersenyum? lihat aku disini berharap kau merubah dunia bisu menjadi
nyata. aku ingin kau yang mempersatukan air dan awan. agar air yang
membasuhi tubuhku hangat. sehangat sentuhanmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar