hai, kamu.
terima kasih surat ini sudah kau buka.
kau harus tahu.
surat yang pertama kali kubuat sudah kuberi nama, yaitu harapan.
bila ada hari esok, surat ini akan menjadi sebuah harapan juga.
jari-jariku tercipta beruaskan harapan-harapan yang masih kutunggu dan kucari.
ketika kumenulis surat ini, sebuah pena kuhimpit di satu ruas.
ini berarti aku akan menuliskan satu harapan.
seolah harapan yang memiliki tinta.
Jagostu - Mau Tak Mau…
sebuah lagu yang sengaja aku dengarkan kali ini.
ruas-ruas jariku kau pegang saat itu pada saat lagu ini kita dengarkan bersama.
harapan terkunci oleh janji bersama akan kehidupan yang kekal.
tidak ada harapan.
hanya janji.
lirik pada lagu ini tidak akan pernah kita rasakan, nantinya.
tapi sayang,
beberapa pihak mencoba hancurkan kuncian janji kita dengan keirian.
hingga kuncian ini rapuh.
mulai dari situ harapan-harapan terlahir.
merengek seakan tidak ingin terlepas.
dan aku mau tak mau harus mengurusnya.
membuatnya tenang, hingga harapan ini bisa terlepas dan mencari kuncian pengganti.
kamu,
seseorang yang memiliki harapanku.
aku hanya ingin memastikan kamu bahagia dengan kuncian barumu.
jangan bersedih.
semakin sering kamu menghujani kuncianmu yang baru karena ingin memberikan harapanku yang kau pegang,
semakin berkarat kuncian itu.
berarti akan semakin sulit kamu terlepas dari kuncian itu.
tenang,
aku masih mempunyai banyak harapan yang dimiliki orang lain.
aku juga akan mendapatkan kuncian baru.
walau harapan yang paling besar ada pada dirimu.
dan memang biasanya yang paling besar itu berat.
butuh perjuangan lebih.
aku sudah tidak sanggup.
yang bisa kulakukan kepadamu kali ini hanya mengantarkan harapan lagi dan lagi kepadamu.
seperti surat ini.
aku,
penunggu harapan darimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar